Senin, 22 Oktober 2012

KEGAGALAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA




KEGAGALAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA
Setelah kurikulum KTSP diberlakukan di sekolah-sekolah, kini pemerintah kembali menciptakan kebijakan baru yakni pendidikan berkarakter. Diharapkan semua mata pelajaran yang diberikan disekolah-sekolah mengintegrasikan pendidikan berkarakter. Disini saya tidak akan menjelaskan apa itu pendidikan berkarakter, tetapi saya hanya akan mengulas sedikit tentang kegagalan pendidikan berkarakter tersebut.
Saya sependapat dengan istilah orang-orang yang berhasil, mereka mengatakan bahwa pengorbanan berupa biaya di keluarkan hanya untuk membiayai keberhasilan bukan kegagalan. Pemerintah menilai bahwa kurangnya moral yang dimiliki rakyat Indonesia saat ini adalah karena pendidikan di Indonesia tidak mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa ini. Pergeseran nilai tersebut adalah akibat dari tidak adanya karakter di setiap mata pelajaran yang diberikan disekolah, olehnya itu maka pengintegrasian pendidikan berkarakter di kurikulum pendidikan sangat penting bahkan wajib dilakukan. Namun apakah program pemerintah ini yang telah menghabiskan banyak biaya untuk pelatihan, sosialisasi, dan lain-lain akan berhasil???
Menurut pendapat saya bahwa program tersebut akan kembali gagal. Beberapa hal yang akan menggagalkan program tersebut adalah :
  1. DPR
Jiwa atau roh pendidikan berkarakter adalah moral. Semakin baik penerapan karakter dalam diri siswa didik maka akan semakin baik pula moral anak didik tersebut. Pembelajaran moral tidak dapat diberikan melalui kata-kata bahkan angka-angka, tetapi pembelajaran moral dimulai dari penglihatan. Anak didik akan banyak belajar dari apa yang dilihatnya, guru berprilaku baik akan dapat mempengaruhi prilaku siswa kearah yang lebih baik begitu pula sebaliknya. Sehingga guru dituntut untuk selalu berprilaku baik. Namun walaupun guru sudah berupaya untuk terus menjaga prilakunya tapi ternyata penglihatan siswa tidak terbatas hanya pada guru. Siswa juga belajar dari lingkungannya, salah satunya adalah prilaku para anggota DPR kita. Kalau siswa selalu berantem maka jangan heran anggota DPR telah memberi contoh kepada mereka, siswa tidur dikelas pada saat jam pelajaran ternyata anggota DPR juga tidur diwaktu sidang, siswa tidak memperhatikan apa yang diterangkan oleh guru, anggota DPR juga demikian karena diwaktu sidang banyak anggota DPR malah asyik cerita bersama teman-temannya, Siswa mengenal film porno eh anggota DPR juga mempertontonkan demikian. Sehingga jangan heran kalau anggota DPR telah memberi andil besar dalam penghancuran moral anak bangsa ini.
  1. Acara Televisi
Acara televisi di Indonesia saat ini banyak yang tidak mengandung pendidikan. Hal-hal yang tidak sepantasnya ditampilkan malah menjadi acara favorit di televisi. Katakanlah acara Infotainment yang banyak bercerita tentang prilaku buruk dari para artis akibatnya banyak anak meniru gaya mereka. Sinetron adalah program yang tidak bermoral, cerita yang ditampilkan mengubah gaya berpikir anak kearah yang tidak baik. Bahkan sinetron sebenarnya telah merusak citra beberapa institusi di Indonesia seperti kedokteran. Bayangkan untuk menentukan bahwa seorang anak adalah anaknya dilihat hanya melalui golongan darah bukan tes DNA. Rumah sakit diobrak-abrik datanya oleh peran jahat dengan mengubah-ubah hasil tes dan lain sebagainya. Apakah ilmu kedokteran seperti demikian??? Apakah rumah sakit baik pelayanan sampai dengan pegawainya memiliki prilaku seperti yang di ceritakan oleh beberapa sinetron?
Institusi lainnya seperti kepolisian sangat memalukan sekali. Coba anda banyangkan hanya untuk menangkap orang didepan matanya beberapa petugas, kok para petugasnya keok seperti orang yang belum pernah makan sehingga buronannya berhasil melarikan diri. Yang paling ironis bahwa ternyata yang melarikan diri tersebut adalah perempuan. Polisi macam apa ini kah!!! Lembeeeekk!!!!
Institusi Dinas Pendidikan. Kalau diperhatikan dengan cermat dan teliti maka sinetron telah menghina institusi ini. Coba anda lihat para pemeran yang berlatar disekolah, para siswanya seperti gaya seorang preman yang tidak beraturan dari ujung kaki sampai dengan ujung rambut, guru dipermainkan dan sekolah seperti kubangan babi yang penuh dengan lumpur pergaulan bebas.
Dan masih banyak lagi institusi pemerintahan yang citranya hancur oleh ulah para sineas di sinetron. Apakah dengan kondisi ini pendidikan berkarakter dapat berhasil? Ingat!!! siswa lebih banyak belajar melalui penglihatan bukan melalui buku-buku pelajaran.
  1. Orang tua
Program pendidikan berkarakter bukan hanya tugas guru semata, melainkan juga adalah tugas orang tua. Saat sekarang banyak orang tua mengajarkan kepada anaknya untuk berbohong misalnya “Nak, kalau ada yang tanyakan bapak/ibu sampaikan bahwa bapak/ibu lagi keluar” padahal sebenarnya bapak/ibu anak tersebut ternyata ada dirumah. Olehnya itu bila masih banyak orang tua yang berkarakter seperti ini maka jangan pernah berharap pendidikan berkarakter akan berhasil diterapkan kepada anak didik kita. Dan yang paling parah adalah anak didik tersebut besar dari biaya hasil korupsi orang tuanya.
  1. Dan masih banyak lagi variabel-variabel yang dapat menggagalkan program pendidikan berkarakter misalnya kebijakan pemerintah daerah, faktor lingkungan, prilaku elit politik, ketidakadilan hukum yang berlaku, kebiasaan mengeksploitas masalah tertentu sehingga menjadi wacana politik, pemberitaan yang berlebihan, kurikulum yang gonta-ganti dan lain-lain
Dengan demikian maka menurut hemat saya bahwa pendidikan berkarakter sulit untuk diterapkan bahkan hasilnya akan gagal total baik dari segi pendidikannya itu sendiri, psikologi, maupun ekonomi.
Berikut sedikit percakapan orang tua dengan anaknya:
Orang tua : Nak, belajar dengan baik agar kamu menjadi presiden, gubernur atau bupati/walikota
Anak : iya pak, saya akan belajar dengan rajin, dan saya janji agar setiap nilai saya menjadi yang terbaik.
Orang tua : nah....itu baru anakku.

Bila sistem yang berlaku sekarang tetap dipertahankan maka anak tersebut walaupun menguasai banyak ilmu pengetahuan saya yakin mimpi / citacitanya tidak akan pernah terwujud. Hari ini untuk menjadi presiden, gubernur, bupati atau walikota tidak diperlukan ilmu tetapi yang paling penting adalah uang. Sehingga untuk menasehati anak bukan menyuruh anak untuk belajar dengan baik melainkan suruhlah anak kita mencari uang sebanyak-banyaknya agar supaya bisa menjadi presiden, gubernur, bupati/walikota.nah..loh... (kata bang rhoma: "terrrlaluu..!")

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  ADA SELEKSI SEKOLAH UNTUK IKUTI KURIKULUM PROTOTIPE Sekolah yang akan mengikuti Kurikulum Prototipe harus melewati seleksi. Penerapan k...